Silahkan cari

Selasa, 19 Desember 2017

UIN Sunan Kalijaga Gelar Simaan Khotmil Qur'an 

Masih terlalu pagi, beberapa mahasiswa masuk ke ruang lantai 1 gedung Prof. KH. Saifuddin Zuhri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Selasa (12/12) lalu. Sebagian dari mereka membuka mushaf al-quran untuk menyimak mahasiswa lainnya yang membaca al-quran 30 juz bil ghoib. Lantunan surat pertama dan kedua membawa suasana kampus terasa sejuk dengan suara merdu dan tartil dari mahasiswa Divisi Tahfizh UKM JQH al-Mizan UIN Sunan Kalijaga.
Hari itu lantunan ayat suci menggema dari lantai satu sampai lantai tiga di gedung Rektorat. Ada sekitar 35 mahasiswa khafid dan khafidoh membaca alquran dan simaan secara bergantian dari berbagai fakultas di UIN Sunan Kalijaga. Meski kegiatan ini berlangsung pada jam kuliah, antusias peserta begitu tinggi terlihat pula ada pegawai yang ikut serta pada acara simaan ini yang bertemakan “Meraih Hidup yang Bermakna dengan Lebih Berdaya dan Berguna”.
Simaan kali ini merupakan kegiatan yang kali kedua. Sebelumnya, simaan seperti ini juga pernah dilaksanakan pada acara program UIN Sunan Kalijaga menghafal pada bulan April lalu. Simaan khatmil qur’an sebagai tindak lanjut dari program UIN Sunan kalijaga menghafal tersebut. Antusias dari berbagai pihak membuat kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar.
Suasana khusuk pun mengawali acara simaan dengan pembukaan dan tawasul yang dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. H. Waryono Abdul Ghofur., M.Ag. Ia mengatakan semangat menghafal al-Qur’an di kalangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga perlu ditingkatkan. “ Kegiatan ini juga bertujuan untuk mendoakan seluruh elemen dalam civitas akademika UIN Sunan Kalijaga ini dari mulai Rektor dan wakil Rektor, staf karwayan, dan mahasiswa agar selalu di berikan kesehatan dan di mudahkan dalam segala urusan” kata Waryono.
“Tidak hanya itu, simaan khatmil Qur’an ini juga diadakan untuk bersama mendoakan kesuksesan dan kelancaran mahasiswa dalam menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) yang sebentar lagi akan berlangsung di kampus UIN Sunan Kalijaga” tutur Waryono.
Kegiatan tahfidul qur’an ini dilaksanakan sebanyak dua kali khatam al-quran. Dua khataman ini dibantu oleh para mahasiswa penerima beasiswa Tahfizh Lazis Bank Syariah Mandiri yang membuat satu halaqah tambahan dengan pembagian juz yang merata untuk dibaca bersama hingga selesai.
Acara simaan selesai pada sore hari, dan ditutup langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Dr. H. Waryono Abdul Ghofur., M.Ag., dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Harapan dari acara ini sebagai kegiatan posistif yang bisa digelar terus menerus dan berkelanjutan agar semakin menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap al-quran. (text: Khabib/ Foto: DoniTW-humas)

 http://uin-suka.ac.id/id/web/liputan/detail/142/uin-sunan-kalijaga-gelar-simaan-khotmil-quran
 

Minggu, 17 Desember 2017

Pengaruh Islamisasi di Indonesia terhadap Budaya Jawa




Pengaruh Islamisasi di Indonesia terhadap Budaya Jawa

Sejak awal, masuknya Islam di Jawa disebarkan secara damai tanpa ada unsur peperangan atau perlawanan sedikitpun. Dilihat dari sejarahnya para 9 wali dalam bahasa Jawanya ''wali songo"  menyebarkan Islam dengan cara yang santun. Uniknya, penyebaran Islam di Jawa dilakukan dengan pendekatan Sosial-budaya melalui berbagai kesenian yang bersifat lokal tanpa menghapus sepenuhnya tradisi masyarakat Jawa saat itu. Yang menariknya lagi para wali songo menanamkan nilai-nilai keislaman dalam tradisi masyarakat Jawa, misalnya : tradisi slametan, perwayangan, gamelan dan lain-lain. Slametan yang dulunya menggunakan mantra versi Jawa-Hindu diganti dengan doa-doa Islam, demikian pula perwayangan yang dulunya mengisahkan cerita Hindu dan tradisi India diganti para wali dengan cerita-cerita yang berbau Islami.

Tentunya penyebaran Islam di Jawa berdampak pula pada kehidupan masyarakat Jawa yang  menanamkan akan nilai-nilai keislaman, dengan cara seperti itu Islampun diterima dengan cara yang santun pula oleh masyarakat Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sejak dulu bersifat terbuka. Maka sangatlah wajar kebudayaan masyarakat Jawa berwatak ramah-tamah.
Diantara karakteristik masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi budaya Islam yang dibawa para wali
antara lain ; mereka pandai menjaga Etika, baik dalam hal berbicara maupun sopan santun. Terutama masyarakat Jawa yang berada di Yogyakarta, Solo dan Semarang dikenal dengan kesopanan dan kehalusan tutur katanya. Seorang anak jika hendak bepergian atau meninggalkan rumah, pada umumnya telah dibiasakan untuk berpamitan. Berpamitan merupakan salah satu bentuk sopan santun. Tujuan dari berpamitan adalah meminta restu agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dan supaya orang tua tidak mengkhawatirkan kepergian anaknya. Pada saat berpamitan biasanya disertai dengan mencium tangan dan kedua pipi orang tua. Contoh lain dari pengaruh budaya Islam di Jawa ialah merundukkan badan ketika berpapasan dengan orang yang lebih tua, sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai orang yang lebih tua sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

Saat ini budaya Islam sudah mengalami berapa perubahan karena masuknya informasi dari berbagai media. Masuknya berbagai media baik cetak maupun elektronik sangat berpengaruh terhadap budaya Islam terutama di kalangan generasi muda. Berbagai informasi yang masuk akan berpengaruh terhadap tatanan nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat Jawa cenderung meniru budaya yang masuk melalui media tersebut dalam bertindak dan berperilaku. Contoh kecilnya saja adab berpakaian dahulu para wali mengajarkan berpakaian menutup aurat bahkan Sunan Kalijaga berinisiatif mendesain baju dengan model tertutup yang kita kenal baju Surjan setelah masuknya budaya barat sebagian masyarakat lebih cenderung memakai pakaian sempit dan mengumbar aurat. Contoh lain dapat kita lihat pada cara makan, dahulu para leluhur mengajarkan cara makan dengan menggunakan tangan dan mejilati makanan yang tersisa di sela-sela jemari untuk memperoleh keberkahan sebagaimana ajaran Islam. Namun sangat disayangkan budaya itu lambat laun mulai ditinggalkan karna mengaggapnya tidak praktis alternatif lain mereka lebih memilih makan dengan menggunakan dengan sumpit, garpu, sendok dan lainnya. Akan tetapi bagi yang bisa membedakan hal-hal yang baik dan buruk tentu tidak akan terpengaruh oleh masuknya budaya asing tersebut.