Pengaruh
Islamisasi di Indonesia terhadap Budaya Jawa
Sejak awal,
masuknya Islam di Jawa disebarkan secara damai tanpa ada unsur peperangan atau
perlawanan sedikitpun. Dilihat dari sejarahnya para 9 wali dalam bahasa Jawanya ''wali songo" menyebarkan Islam dengan cara yang
santun. Uniknya, penyebaran Islam di Jawa dilakukan dengan pendekatan
Sosial-budaya melalui berbagai kesenian yang bersifat lokal tanpa menghapus
sepenuhnya tradisi masyarakat Jawa saat itu. Yang menariknya lagi para wali songo menanamkan nilai-nilai
keislaman dalam tradisi masyarakat Jawa, misalnya : tradisi slametan,
perwayangan, gamelan dan lain-lain. Slametan yang dulunya menggunakan mantra
versi Jawa-Hindu diganti dengan doa-doa Islam, demikian pula perwayangan yang
dulunya mengisahkan cerita Hindu dan tradisi India diganti para wali dengan
cerita-cerita yang berbau Islami.
Tentunya
penyebaran Islam di Jawa berdampak pula pada kehidupan masyarakat Jawa
yang menanamkan akan nilai-nilai
keislaman, dengan cara seperti itu Islampun diterima
dengan cara yang santun pula oleh masyarakat Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat Jawa sejak dulu bersifat terbuka. Maka sangatlah wajar kebudayaan
masyarakat Jawa berwatak ramah-tamah.
Diantara karakteristik masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi budaya Islam yang dibawa para wali antara lain ; mereka pandai menjaga Etika, baik dalam hal berbicara maupun sopan santun. Terutama masyarakat Jawa yang berada di Yogyakarta, Solo dan Semarang dikenal dengan kesopanan dan kehalusan tutur katanya. Seorang anak jika hendak bepergian atau meninggalkan rumah, pada umumnya telah dibiasakan untuk berpamitan. Berpamitan merupakan salah satu bentuk sopan santun. Tujuan dari berpamitan adalah meminta restu agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dan supaya orang tua tidak mengkhawatirkan kepergian anaknya. Pada saat berpamitan biasanya disertai dengan mencium tangan dan kedua pipi orang tua. Contoh lain dari pengaruh budaya Islam di Jawa ialah merundukkan badan ketika berpapasan dengan orang yang lebih tua, sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai orang yang lebih tua sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.
Diantara karakteristik masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi budaya Islam yang dibawa para wali antara lain ; mereka pandai menjaga Etika, baik dalam hal berbicara maupun sopan santun. Terutama masyarakat Jawa yang berada di Yogyakarta, Solo dan Semarang dikenal dengan kesopanan dan kehalusan tutur katanya. Seorang anak jika hendak bepergian atau meninggalkan rumah, pada umumnya telah dibiasakan untuk berpamitan. Berpamitan merupakan salah satu bentuk sopan santun. Tujuan dari berpamitan adalah meminta restu agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dan supaya orang tua tidak mengkhawatirkan kepergian anaknya. Pada saat berpamitan biasanya disertai dengan mencium tangan dan kedua pipi orang tua. Contoh lain dari pengaruh budaya Islam di Jawa ialah merundukkan badan ketika berpapasan dengan orang yang lebih tua, sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai orang yang lebih tua sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.
Saat ini budaya Islam sudah mengalami berapa perubahan karena masuknya informasi dari
berbagai media. Masuknya berbagai media baik cetak maupun elektronik sangat
berpengaruh terhadap budaya Islam terutama di kalangan generasi muda. Berbagai informasi yang
masuk akan berpengaruh terhadap tatanan nilai yang berlaku di masyarakat.
Masyarakat Jawa cenderung meniru budaya yang masuk melalui media tersebut dalam
bertindak dan berperilaku. Contoh kecilnya saja adab berpakaian dahulu para
wali mengajarkan berpakaian menutup aurat bahkan Sunan Kalijaga berinisiatif
mendesain baju dengan model tertutup yang kita kenal baju Surjan setelah masuknya budaya barat sebagian masyarakat lebih
cenderung memakai pakaian sempit dan mengumbar aurat. Contoh lain dapat kita
lihat pada cara makan, dahulu para leluhur mengajarkan cara makan dengan
menggunakan tangan dan mejilati makanan yang tersisa di sela-sela jemari untuk
memperoleh keberkahan sebagaimana ajaran Islam. Namun sangat disayangkan budaya
itu lambat laun mulai ditinggalkan karna mengaggapnya tidak praktis alternatif lain mereka lebih memilih makan dengan menggunakan dengan sumpit, garpu,
sendok dan lainnya. Akan tetapi bagi yang bisa membedakan hal-hal yang baik dan
buruk tentu tidak akan terpengaruh oleh masuknya budaya asing tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar